Reliability Articles

Beyond Maintenance: The Future of Asset Management with Machine Learning

Manajemen aset tradisional sering kali identik dengan perbaikan reaktif: memperbaiki sesuatu hanya setelah rusak. Pendekatan ini, yang dikenal sebagai pemeliharaan reaktif (reactive maintenance), memang memiliki peran, tetapi sering kali menyebabkan downtime yang tidak terduga, biaya perbaikan tinggi, dan risiko keselamatan. Namun, era baru telah tiba. Dengan munculnya teknologi machine learning, kita dapat beralih dari sekadar ‘memperbaiki’ menjadi ‘memprediksi’ dan ‘mencegah’. Artikel ini akan membahas bagaimana machine learning, khususnya melalui aplikasi seperti AVEVA Predictive Analytics, merevolusi manajemen aset.

Evolusi Manajemen Aset 

Evolusi manajemen aset telah berkembang dari pendekatan reaktif ke strategi yang sangat proaktif dan prediktif, terutama dengan integrasi machine learning (ML). Perkembangan ini dapat dipahami melalui beberapa fase utama, yang masing-masing menawarkan peningkatan efisiensi dan penghematan biaya.

  1. Reactive Maintenance (Run to Failure)   

Strategi paling dasar ini mengizinkan aset beroperasi hingga gagal. Meskipun biaya pemeliharaan awal rendah, metode ini sangat berisiko karena menyebabkan downtime yang tidak terencana, seringkali memerlukan perbaikan yang lebih mahal, dan hanya disarankan untuk aset berbiaya rendah dengan dampak kegagalan yang minimal.

  1. Preventive Maintenance (PM)

Merupakan pergeseran awal ke arah proaktif, di mana perawatan dilakukan berdasarkan interval waktu atau jam operasi yang telah ditetapkan (misalnya, setiap 6 bulan). Meskipun mengurangi risiko kegagalan tak terduga, PM seringkali tidak efisien karena melakukan perawatan terlalu dini (over-maintenance), membuang sumber daya, dan menyebabkan pemborosan suku cadang. Cocok untuk komponen habis pakai berbasis waktu.

  1. Predictive Maintenance (Condition Based maintenance) 

Pemeliharaan dilakukan hanya ketika analisis data sensor (vibration, temperature, pressure) mengindikasikan adanya penurunan kondisi. Ini jauh lebih efisien daripada PM karena meminimalkan over-maintenance dan downtime. Implementasinya memerlukan sistem sensor yang komprehensif, aplikasi monitoring real-time, dan tim insinyur bersertifikasi untuk menganalisis data dan merekomendasikan tindakan.

  1. Prescriptive Maintenance

Tahap puncak evolusi ini melampaui prediksi (PdM). Dengan menggunakan ML tingkat lanjut, sistem tidak hanya memprediksi kapan kegagalan akan terjadi, tetapi juga secara otomatis menyarankan solusi spesifik terbaik dan mengapa solusi tersebut optimal. Strategi ini meminimalkan intervensi manusia dalam pengambilan keputusan, secara signifikan mengotomatisasi proses pemecahan masalah, dan memaksimalkan efisiensi operasional.

 

Peran Machine Learning dalam Pemeliharaan Prescriptive

Machine learning (ML) merupakan inti dari Pemeliharaan Preskriptif, berfungsi sebagai mesin analitik yang mampu meninjau dan memahami sejumlah besar data sensor real-time (temperature, pressure, vibration) serta riwayat perbaikan yang luas.  Algoritma ML terlatih mampu mengidentifikasi pola tersembunyi yang mengindikasikan anomali kegagalan yang akan datang. Setelah anomali terdeteksi, model ML akan mengeluarkan peringatan prediktif yang kuat, memungkinkan tim pemeliharaan untuk menjadwalkan perbaikan secara proaktif dan tepat waktu.

 

AVEVA Predictive Analytics

AVEVA Predictive Analytics adalah platform yang dirancang untuk mengaplikasikan machine learning dalam konteks industri. Ini bukan hanya alat, melainkan solusi komprehensif yang membantu perusahaan:

  1. Mengumpulkan dan Mengintegrasikan Data: Menghubungkan berbagai sumber data—dari sensor IoT hingga sistem SCADA dan ERP—untuk mendapatkan gambaran holistik.
  2. Membangun dan Melatih Model: Dengan antarmuka yang ramah pengguna, teknisi dan insinyur dapat membangun model machine learning tanpa harus menjadi ahli data sains. Model-model ini belajar dari data historis untuk mengidentifikasi perilaku normal dan anomali.
  3. Membuat Prediksi Otomatis: Sistem secara otomatis memantau aset 24/7 dan memberikan notifikasi dini tentang potensi kegagalan. Ini memungkinkan tim untuk proaktif.
  4. Menyajikan Informasi yang Dapat Ditindaklanjuti: Notifikasi tidak hanya memberitahu “ada yang salah,” tetapi juga memberikan detail tentang aset yang berisiko, parameter yang terpengaruh, dan tingkat keparahan risiko.

 

Arsitektur Sistem AVEVA Predictive Analytics

 

Gambar Arsitektur Sistem 

 

Data Sources

Ini adalah sumber raw data yang digunakan untuk analisis. Sumber data tersebut bisa berasal dari berbagai platform, seperti:

  • Database Perusahaan: Mengumpulkan data historis dari berbagai peralatan atau sistem dalam format terstruktur.
  • Historian: Sistem yang mencatat data operasional secara terus-menerus.
  • Sistem Pihak Ketiga: Data dari aplikasi eksternal atau sumber lain yang terintegrasi.

 

Dedicated Servers

Bagian ini adalah inti dari sistem yang menyimpan dan memproses data.

  • AVEVA Predictive Analytics Server: Server utama yang menjalankan algoritma prediksi. Server ini mengambil data dari Data Sources, memprosesnya, dan kemudian mengirimkannya ke server lain.
  • Central Database (SQL Server): Database sentral yang digunakan untuk menyimpan data konfigurasi, hasil analisis, dan informasi lain yang diperlukan oleh sistem.
    • Archive Historian : Digunakan untuk menyimpan data historis dalam jumlah besar secara efisien, yang kemudian dapat diakses oleh AVEVA Predictive Analytics Server untuk analisis.
  • AVEVA Predictive Analytics Web Server: Server ini berfungsi sebagai jembatan yang memungkinkan pengguna mengakses hasil analisis melalui web.

 

Workstation

ini adalah antarmuka yang digunakan oleh pengguna dalam berinteraksi dengan sistem.

  • AVEVA Predictive Analytics Client: Aplikasi desktop yang diinstal pada komputer pengguna. Klien ini memberikan akses penuh untuk membuat, mengelola, dan melihat model prediksi.
  • AVEVA Predictive Analytics Web: Antarmuka berbasis web yang memungkinkan pengguna mengakses laporan, dashboard, dan hasil analisis dari mana saja melalui browser web.

 

Cara Kerja Sistem

Secara umum, sistem ini bekerja dengan cara berikut:

  1. Pengambilan Data: AVEVA Predictive Analytics Server secara otomatis mengambil data historis dan operasional dari Data Sources, seperti Historian atau database lainnya.
  2. Pemodelan: Data tersebut kemudian digunakan untuk melatih model prediktif. Model ini belajar dari pola normal data historis.
  3. Analisis Prediktif: Setelah model siap, sistem secara terus-menerus menganalisis data baru secara real-time untuk mendeteksi penyimpangan dari pola normal.
  4. Notifikasi: Jika sistem mendeteksi anomali atau potensi kegagalan, notifikasi akan dikirimkan kepada pengguna melalui AVEVA Predictive Analytics Web atau Client.
  5. Akses Pengguna: Pengguna dapat melihat hasil analisis, laporan, dan dashboard melalui antarmuka web atau desktop untuk mengambil tindakan yang diperlukan.

Sistem ini membantu perusahaan dalam melakukan pemeliharaan preskriptif, yang memungkinkan mereka untuk mengidentifikasi masalah sebelum terjadi kegagalan, sehingga dapat mengurangi waktu henti (downtime) dan biaya perbaikan.

 

Contoh Studi Kasus

Sebuah pabrik pembangkit listrik menggunakan AVEVA Predictive Analytics untuk memantau turbin gas. Sistem memprediksi keausan pada salah satu bearing jauh sebelum suara aneh terdengar atau vibrasi terdeteksi secara manual. Peringatan dini (early warning)ini memungkinkan tim pemeliharaan untuk melakukan verifikasi dan analisa terhadap failure yang ada. Setelah itu bisa dilakukan perbaikan seperti menjadwalkan penggantian bearing di masa overhaul, menghindari kegagalan tak terduga yang bisa menghentikan operasi selama berhari-hari dan menyebabkan kerugian jutaan dolar.

Gambar Studi Kasus Predictive Maintenance

 

Keuntungan Utama

Mengadopsi pemeliharaan preskriptif dengan machine learning menawarkan berbagai manfaat, antara lain:

  • Peningkatan Keandalan Aset: Mengurangi downtime yang tidak terencana secara signifikan.
  • Pengurangan Biaya: Menghindari perbaikan darurat yang mahal dan mengoptimalkan jadwal pemeliharaan.
  • Peningkatan Keselamatan: Menghindari kegagalan aset yang dapat menyebabkan kecelakaan.
  • Optimalisasi Operasional: Mengalokasikan sumber daya pemeliharaan dengan lebih efisien, hanya melakukan pekerjaan saat benar-benar diperlukan.

 

Kesimpulan

Masa depan manajemen aset adalah pergeseran fundamental dari pendekatan reaktif menuju strategi prediktif yang proaktif dan cerdas, di mana pemanfaatan Machine Learning dan platform canggih (seperti AVEVA Predictive Analytics) memungkinkan pencegahan kegagalan secara efektif, menghasilkan penghematan biaya, waktu, serta memastikan operasional yang lebih andal, efisien, dan aman.

Download File

Share this